Keutamaan Memperingati Maulid Nabi Part II
Perintis Peringatan Maulid Nabi
Peringatan Maulud Nabi sudah
diadakan oleh kalangan umat Islam sejak pada kurun ketiga atau tiga
ratus tahun setelah hijrah Nabi, yang pada saat itu kondisi umat Islam
mulai rusak dalam berbagai hal.
Tokoh pemerintahan yang pertama
kali menyelenggarakan peringatan Maulud Nabi adalah Penguasa Irbil Raja
Mudzaffar Abu said Al Kukburi bin Zainuddin Ali bin Buktikin. Beliau
adalah Raja yang cerdas ahli strategi di bidang pemerintahan, pemurah,
alim dan adil. Saat itu pemerintahannya terasa kurang stabil, rakyatnya
mulai banyak meninggalkan syariat agamanya, akhlaqnya mulai rusak, mulai
terjadi banyak kerusuhan-kerusuhan dan kemaksiatan- kemaksiatan.
Raja Mudzaffar berinisiatif
menyelenggarakan peringatan Maulid nabi setiap bulan Robi’ul Awal secara
besar-besaran, dengan mengumpulakan semua masyarakat dari
tokoh-tokohnya sampai rakyat kecil. Pada peringatan Maulid itu
disampaikan penjelasan tentang sejarah dan perjuangan, serta keteladanan
Nabi Muhammad SAW sejak lahir sampai wafatnya. Seorang ulama’ besar
Syekh Al Hafidz Ibnu Dahyah yang mengarang kitab tentang sejarah Nabi
yang diberi nama At-Tanwir fi Maulidil Basyir An-Nadzir, diberi hadiah
oleh Raja 1000 dinar.
Setelah diadakan peringatan
Maulid Nabi SAW tersebut, pemerintahan kembali stabil, semangat
pengamalan agamanya makin baik, negaranya aman, tentram dan bertambah
makmur. Sesuai dengan Firman Allah SWT :
وَلَوْ اَنَّ أَهْلَ الْقُرَى
آمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ
وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَاكَانُوْا
يَكْسِبُوْنَ. (الأعراف :٩٥)
Jikalau
sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami
(Allah) akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi,
tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka
disebabkan perbuatannya. (QS : Al A’raf :96).
Anjuran memperingati Maulid Nabi
Anjuran supaya memperingati
Maulid Nabi sudah diisyaratkan oleh Allah SWT, dan oleh nabi sendiri.
Firman Allah surat Al A’rof : 157 :
فَالَّذِيْنَ آمَنُوْا بِهِ
وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْ أُنْزِلَ
مَعَهُ وَاُولئِكَ هُمُ اْلمُفْلِحُوْنَ. (الأعراف :١٥٧)
Maka
orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad) memulyakannya,
menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya
(Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al A’rof
:157)
Termasuk
orang-orang yang memulyakan (dalam ayat ini) adalah orang-orang yang
memperingati Maulid Nabi SAW, yang membaca Barzanji, Marhaban, Burdah,
syair-syair dan qosidah-qosidah dan pengajian-pengajian, kalau
dimaksudkan untuk memulyakan Nabi, maka akan mendapat pahala yang banyak
dan akan beruntung.
Nabi Muhammad saw juga sudah
memberikan isyarat tentang perlunya memperingati kelahiran Nabi
sebagaimana hadis riwayat Muslim yang bersumber dari Abu Qotadah Al
Anshory r.a :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلعم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإِثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ. (رواه مسلم)
“Sesungguhnya
Rosulullah saw ditanya seorang sahabat tentang puasa hari Senin, maka
beliau menjawab, sebab di hari Senin itu hari kelahiranku, dan wahyu
diturunkan kepadaku”. ( HR. Muslim). Dari hadis ini Nabi sendiri juga
memulyakan hari kelahirannya, dengan berpuasa (amal yang baik).
Beberapa pendapat tentang memperingati Maulid Nabi saw.
Di kalangan umat Islam ada beberapa pemahaman tentang memperingati Maulid nabi saw :
1.
Golongan yang terbesar, yaitu yang merayakan Maulid Nabi setiap bulan
Robi’ul Awwal, bahkan di bulan-bulan yang lain atau tiap-tiap malam
Senin atau Jum’at dengan membaca Barzanji, membaca Marhaban dan
kitab-kitab Maulid lainnya, sebagaimana yang biasa diamalkan umat Islam
sejak dahulu. Golongan ini ada yang hanya membaca Barzanji saja, atau
ada pula yang diteruskan dengan pengajian atau ceramah tentang riwayat
dan perjuangan Nabi. Semua itu dengan maksud untuk melahirkan
kecintaannya kepada nabi Muhammad saw.
2. Golongan umat Islam yang
nerayakan maulid nabi tiap Bulan Robiul Awal, tetapi tidak dengan
membaca Barzanji, tidak membaca Marhaban, atau kitab-kitab Maulid
lainnya, karena dianggap tidak ada tuntunannya.
3. Golongan yang ekstrim, yaitu
tidak mau merayakan peringatan maulid Nabi sama sekali, karena hal itu
dianggap bid’ah yang harus ditinggalkan.










0 komentar:
Post a Comment