Tangga-Tangga Hidayah

Kehidupan ini adalah sebuah permainan belaka. Permainan tubuh dan permainan perasaan. Kita sebagai pelaku kehidupan, berhak menentukan arah dari kehidupan sendiri. Tak sedikit orang yang harapannya adalah mensucikan diri, mengenal Tuhannya dengan berbagai ekspresi. Namun tanpa didasari ilmu yang kuat, akhirnya mereka menjadi pelaku tokoh-tokoh kehidupan yang konyol.


Pelukis manusia telanjang adalah contoh pelaku kehidupan yang konyol. Oleh sebagian kecil orang, cita rasa pelukis yang telah bertransformasi menjadi pelukis telanjang, dianggap telah berani mengekspresikan nilai kejujuran hidup. Si pelukis dianggap mampu mengekspresikan “seni”, pada tubuh manusia. Padahal apa yang dilakukan pelukis adalah konyol.


Hidup kita, ada dalam genggaman tangan kita sendiri. Artinya, kitalah yang menentukan kemana arah yang hendak kita capai. Oleh karena itu, jadlah maestro kehidupan, dengan mengikuti jalan yang telah diberi hidayah dan petunjuk oleh Allah.


Apa itu hidayah? Hidayah adalah bimbingan lembut dari Allah, sampai –sampai kita tidak merasakannya karena saking lembutnya. Seperti Luqman al Hakim, yang bijaksana mendidik anaknya hingga diabadikan dalam al quran, merupakan salah satu contoh bimbingan hidayah dari Allah. Para nabi dan rosul pun, seringkali menjadi golongan yang mendapatkan bimbingan (hidayah) dari Allah secara langsung.


Berikut ini adalah beberapa tangga atau tingkatan hidayah, yaitu :


1. Di tingkat pertama ini, Allah berbicara langsung dengan hambaNya, secara sadar dan tanpa perantara. Hal ini terjadi pada Musa, yang berdialog langsung dengan Allah, hingga mendapatkan julukan kalim Allah (kalimullaah). Hidayah ini sangat istimewa, dan tidak pernah didapati oleh hamba Allah yang lain selain Musa as. (QS. An Nisa : 164)


2. Tingkatan kedua, adalah dengan jalan Allah memberikan wahyu. Ini hanya berlaku untuk para nabi yang Allah kehendaki.


 


“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya.”

(An-Nisa’: 163).


 


“Dan, tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir.” (Asy- Syura: 51).


3. Allah mengirim utusan dari jenis malaikat kepada utusan dari jenis manusia, lalu utusan malaikat ini menyampaikan wahyu dari Allah seperti yang diperintahkan-Nya. Itulah hidayah di tingkat ketiga.


 


Tiga tingkatan hidayah di atas dikhususkan hanya bagi para Rasul dan Nabi atau tidak berlaku untuk selain mereka. Utusan malaikat itu bisa berwujud manusia berjenis laki-laki, yang bisa dilihat dengan mata telanjang dan juga berbicara empat mata, dan adakalanya dia menampakkan diri dalam wujud aslinya. Adakalanya malaikat ini masuk ke dalam diri rasul dan menyampaikan wahyu seperti yang diperintahkan, lalu dia melepaskan diri darinya. Tiga cara ini pernah dialami nabi kita Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.


 


Berikut ini, tingkatan yang diberikan Allah pada manusia:


1. Tingkatan keempat inilah Allah membisikkan ke dalam benak hambaNya. Tingkatan ini berbeda dengan wahyu yang bersifat khusus dan juga berbeda dengan tingkatan para siddiqin. Contoh adalah yang dialami oleh Umar bin Khattab.


Sesungguhnya di tengah umat-umat sebelum kalian ada orang-orang yang mendapat bisikan. Jika ada dari umatku, sesorang dari mereka, maka dia adalah Umar bin Khattab” (H.R Ahmad).


 


2. Hidayah di tingkatan kelima, Allah memberikan pemahaman kepada hambaNya, sebagaimana terdapat di surat Al-Anbiya ayat 78-79 berikut ini:


Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan, adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan ilmu.


Pemahaman ini datangnya dari Allah dan Rasul-Nya, yang merupakan inti kebenaran.  Ada perbedaan di antara orang-orang yang berilmu sehubungan dengan pemahaman ini, sampai-sampai ada satu orang yang disamakan dengan seribu orang. Perhatikan pemahaman yang dimiliki Ibnu Abbas, saat dia ditanya Umar dalam pertemuan yang dihadiri para shahabat yang pernah ikut perang Badr dan juga lain-lainnya tentang makna surat An-Nashr.


Menurut Ibnu Abbas, surat ini merupakan pengabaran tentang kedekatan ajal beliau. Ternyata jalan pikiran Ibnu Abbas ini cocok dengan jalan pikiran Umar sendiri. Hanya mereka berdua yang memahami seperti ini, sekalipun Ibnu Abbas adalah orang yang paling muda di antara para shahabat yang ada pada waktu itu. Dari sisi mana surat ini bisa dipahami sebagai pengabaran tentang ajal beliau yang sudah dekat kalau bukan karena pemahaman yang sifatnya khusus?

0 komentar:

Post a Comment