Sukses dan Berharga
Bismillaahirrahmaanirrahiim...
Seseorang bertanya kepadaku, "Aku senang menjadi muslim. Tetapi aku muslim karena kedua orang tuaku juga seorang muslim. Seandainya ayah ibuku bukan muslim, maka bagaimanakah nasibku di hadapan Rabbku?"
Aku menjawab, "Aku tidak lebih tahu apa apa yang menjadi hukum dan ketetapan Rabbku atas perkaramu. Bagaimana mungkin aku memutuskan kau akan d
Seseorang bertanya kepadaku, "Aku senang menjadi muslim. Tetapi aku muslim karena kedua orang tuaku juga seorang muslim. Seandainya ayah ibuku bukan muslim, maka bagaimanakah nasibku di hadapan Rabbku?"
Aku menjawab, "Aku tidak lebih tahu apa apa yang menjadi hukum dan ketetapan Rabbku atas perkaramu. Bagaimana mungkin aku memutuskan kau akan d
iterima atau tidak disisi Rabbku, sedangkan itu bukan wewenangku?"
Ia lalu bertanya lagi, "Seandainya aku meminta pendapatmu, maka apa pendapatmu?"
Aku menjawab, "Sungguh aku tidak tahu."
Ia bertanya lagi, "Jawablah setahumu."
Aku menjawab, "Sungguh aku tak memiliki pengetahuan tentang itu."
"Tolonglah aku, demi agama Islam yang kupeluk ini. Apa yang ada di benakmu...?"
Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku hanya berfikir bagaimana caranya agar hidup ini selain indah, juga terasa berharga. Aku tak berfikir bagaimana caranya agar aku sukses... Aku hanya berfikir bagaimana caranya agar aku berguna..."
"Jelaskan maksud ucapanmu!" Desaknya.
"Bagiku pengukuran sukses dilihat dari sebuah pencapaian. Jika aku sudah kaya, maka aku sudah tidak sukses lagi. Jika cita citaku untuk menghajikan orang tua terlaksana, maka saat itu juga aku sudah tidak sukses lagi.
Menjadi orang berharga tidak diukur dari sebuah pencapaiannya, melainkan dari fungsi dan kegunaannya. Ketika aku sukses, belum tentu aku berfungsi atau berguna bagi orang lain.
Aku memandang Islam sebagai sebuah jembatan yang "memfungsikan" pertemuan cinta antara aku dengan Rabbku. Bukan sebuah pencapaian semata. Karena untuk menjadi orang Islam sejati, tak cukup dengan syahadat saja, lalu surga dalam genggamannya...
Ia lalu bertanya lagi, "Aku tidak paham dengan kata katamu..."
Aku lalu menjawab, "Menjadikan hidup ini indah dan berharga, itu berarti ada harus ada nilai nilai kebaikan yang tertanam di dalamnya. Itulah sebabnya, hidayah keislaman hanya akan hadir pada hati yang terbuka pada keindahan, karena inti ajaran keislaman itu ada pada keindahan.
Memiliki orang tua muslim adalah sebuah anugerah yang luar biasa, karena jalan menuju syurga ada dalam genggaman. Tetapi memiliki orang tua yang bukan muslim pun juga sebuah anugerah. Karena ketika keindahan dan keberhargaan hidup berhasil kita rasakan, dan kita mampu pula membagikannya pada orang lain, maka itulah sebaik baik nikmat yang dimiliki oleh seorang muslim.
Tidakkah kau bangga jika berhasil menunjukkan jalan keselamatan bagi kedua orang tuamu?"
Sahabat hati...
Fokuslah menjalani hidup ini dengan benar, agar hidupmu terasa indah, dan engkau pun menjadi berharga karena kebaikan kebaikan yang kau tanam di dalamnya.
Fokuslah menebar kebaikan karena mengharap ridha-Nya semata, karena kebaikan itu adalah jalan bagimu untuk mendapatkan hidayah keislaman yang sejati. Insya Allah
Wallaahu a'lam bish showwab. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf atas kekurangan dalam penyampaian. Dan segala kesalahannya, muthlaq karena kefakiran ilmu yang kami miliki.
Penulis : Andrias Sutanto Lim
Ditulis di Singapura, 4 Juni 2011
Editor : Fathurrachman El Hafidz
Sumber Page FB : Kupilih Dermaga-Mu Untuk Pelabuhan Cintaku
Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'share' dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends’
Ia lalu bertanya lagi, "Seandainya aku meminta pendapatmu, maka apa pendapatmu?"
Aku menjawab, "Sungguh aku tidak tahu."
Ia bertanya lagi, "Jawablah setahumu."
Aku menjawab, "Sungguh aku tak memiliki pengetahuan tentang itu."
"Tolonglah aku, demi agama Islam yang kupeluk ini. Apa yang ada di benakmu...?"
Aku terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku hanya berfikir bagaimana caranya agar hidup ini selain indah, juga terasa berharga. Aku tak berfikir bagaimana caranya agar aku sukses... Aku hanya berfikir bagaimana caranya agar aku berguna..."
"Jelaskan maksud ucapanmu!" Desaknya.
"Bagiku pengukuran sukses dilihat dari sebuah pencapaian. Jika aku sudah kaya, maka aku sudah tidak sukses lagi. Jika cita citaku untuk menghajikan orang tua terlaksana, maka saat itu juga aku sudah tidak sukses lagi.
Menjadi orang berharga tidak diukur dari sebuah pencapaiannya, melainkan dari fungsi dan kegunaannya. Ketika aku sukses, belum tentu aku berfungsi atau berguna bagi orang lain.
Aku memandang Islam sebagai sebuah jembatan yang "memfungsikan" pertemuan cinta antara aku dengan Rabbku. Bukan sebuah pencapaian semata. Karena untuk menjadi orang Islam sejati, tak cukup dengan syahadat saja, lalu surga dalam genggamannya...
Ia lalu bertanya lagi, "Aku tidak paham dengan kata katamu..."
Aku lalu menjawab, "Menjadikan hidup ini indah dan berharga, itu berarti ada harus ada nilai nilai kebaikan yang tertanam di dalamnya. Itulah sebabnya, hidayah keislaman hanya akan hadir pada hati yang terbuka pada keindahan, karena inti ajaran keislaman itu ada pada keindahan.
Memiliki orang tua muslim adalah sebuah anugerah yang luar biasa, karena jalan menuju syurga ada dalam genggaman. Tetapi memiliki orang tua yang bukan muslim pun juga sebuah anugerah. Karena ketika keindahan dan keberhargaan hidup berhasil kita rasakan, dan kita mampu pula membagikannya pada orang lain, maka itulah sebaik baik nikmat yang dimiliki oleh seorang muslim.
Tidakkah kau bangga jika berhasil menunjukkan jalan keselamatan bagi kedua orang tuamu?"
Sahabat hati...
Fokuslah menjalani hidup ini dengan benar, agar hidupmu terasa indah, dan engkau pun menjadi berharga karena kebaikan kebaikan yang kau tanam di dalamnya.
Fokuslah menebar kebaikan karena mengharap ridha-Nya semata, karena kebaikan itu adalah jalan bagimu untuk mendapatkan hidayah keislaman yang sejati. Insya Allah
Wallaahu a'lam bish showwab. Semoga bermanfaat, dan mohon maaf atas kekurangan dalam penyampaian. Dan segala kesalahannya, muthlaq karena kefakiran ilmu yang kami miliki.
Penulis : Andrias Sutanto Lim
Ditulis di Singapura, 4 Juni 2011
Editor : Fathurrachman El Hafidz
Sumber Page FB : Kupilih Dermaga-Mu Untuk Pelabuhan Cintaku
Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu dengan meng-klik 'bagikan'/'share' dan undang temen2mu gabung dg klik ‘Invite Your Friends’










0 komentar:
Post a Comment